SEJARAH KAMPUNG PURWODADI
I. Sejarah Perkembangan Infrastruktur dan Fasilitas Umum
Pembangunan awal di Kampung Purwodadi diawali dengan mendirikan langgar atau mushala sebagai sarana ibadah pertama. Pelaksanaan pembangunannya dilakukan secara gotong royong, sedangkan seluruh bahan, material, dan alat yang digunakan diperoleh secara swadaya oleh masyarakat. Hal ini mencerminkan tingginya kepedulian warga dalam mewujudkan rumah ibadah sebagai tempat sujud bagi umat Muslim di Kampung Purwodadi.
Selanjutnya, pada bulan April 1966, didirikan Gedung Kesenian secara swadaya oleh masyarakat dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang masih sederhana, seperti kayu log (kayu bulat), bambu, dan atap ilalang. Pada tahun 1971, masyarakat kembali bergotong royong membangun Balai Kampung yang berfungsi sebagai tempat berkumpul warga saat mengadakan pertemuan maupun pertunjukan adat, atau yang sering disebut sebagai upacara Bersih Desa (Kampung).
Pada tahun 1975, Dinas Pendidikan memberikan bantuan berupa satu gedung Sekolah Dasar (SD) semipermanen dengan kapasitas tiga ruangan (lokal). Pada tahun 1976, dilakukan penambahan bangunan sebanyak tiga lokal untuk menggantikan SD Paralel Kampung Linggang Bigung yang saat itu kondisinya masih darurat.
Kemudian, pada tahun 1978, masyarakat untuk pertama kalinya membangun sebuah masjid yang diberi nama "Masjid Al-Kautsar". Masjid ini dibangun dengan gaya arsitektur semimodern, meskipun bahan bangunannya masih menggunakan kayu log dan beratap seng. Seiring dengan peningkatan jumlah jemaah yang signifikan, bangunan masjid tersebut saat ini memerlukan perluasan fisik agar dapat mengakomodasi seluruh warga yang beribadah.
II. Kronologi Masa Kepemimpinan Petinggi / Kepala Kampung
1. Masa Kepemimpinan Bapak Noto Prayitno (1964–1965)
Pada periode ini, pemerintahan kampung masih bersifat sementara. Kepala kampung dipilih melalui penunjukan langsung oleh pihak atasan dan belum melalui mekanisme pemilihan resmi. Akibatnya, sekitar 75% kewenangan serta penanganan permasalahan kampung masih dipegang oleh Departemen Transmigrasi. Pada masa ini, pembangunan fisik dan penataan kampung belum dapat terlaksana karena seluruh penduduk masih terfokus pada pembangunan rumah tinggal pribadi, mengingat wilayah kampung saat itu sebagian besar masih berupa hutan dan lahan yang dikerjakan secara mandiri oleh masyarakat.
2. Masa Kepemimpinan Bapak Amat Sukarto (Periode I: 1965–1971)
Pada masa pemerintahan ini, pembangunan sarana dan prasarana kampung mulai dirintis, yang meliputi:
Sarana ibadah (mushala dan masjid)
Sarana seni budaya (wayang kulit)
Sarana musyawarah (Balai Kampung)
Karakteristik yang paling menonjol pada masa kepemimpinan Bapak Amat Sukarto adalah tingginya semangat kegotongroyongan masyarakat, yang dibuktikan melalui pembangunan fisik berupa Langgar/Mushala, Balai Kesenian, dan Balai Kampung. Mengingat belum adanya bantuan dari pihak luar, seluruh proyek tersebut dilaksanakan secara swadaya melalui mekanisme "Rembug Desa" (Musyawarah Kampung) yang diadakan setiap dua bulan sekali. Pada saat itu, Departemen Transmigrasi hanya menangani masalah honorarium kepala kampung yang dihimpun dari masyarakat berupa satu kaleng padi per kepala keluarga.
3. Masa Kepemimpinan Bapak Raswan (1971–1972)
Saat Bapak Raswan memimpin, Kampung Purwodadi masih berada di bawah wilayah administrasi Kecamatan Barong Tongkok. Pada periode ini, masyarakat sempat mengalami kendala dalam pengurusan administrasi ke tingkat kecamatan karena keterbatasan sarana transportasi (Bapak Raswan belum dapat mengendarai sepeda). Beliau menjabat sebagai kepala kampung selama satu tahun. Hal yang paling menonjol pada masa pemerintahannya adalah terjaganya kerukunan, persatuan, dan hubungan gotong royong yang harmonis antara pemimpin dan warga. Sistem honorarium pada masa ini masih sama dengan periode sebelumnya.
4. Masa Kepemimpinan Bapak Kromo Karso (1972–1977)
Pada periode ini, masyarakat mulai mengenal teknologi mesin gergaji (chainsaw). Pengolahan bahan bangunan seperti balok dan papan tidak lagi menggunakan kayu bulat, melainkan dibelah sesuai dengan kebutuhan fisik bangunan. Kerukunan antarwarga tetap terjaga dengan baik, yang dibuktikan dengan pembangunan SD Paralel Linggang Bigung secara darurat sebelum akhirnya dibangun gedung SD Inpres oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) pada tahun 1975.
Selain itu, seni budaya dan adat Jawa sangat dijunjung tinggi, seperti penyelenggaraan upacara Bersih Desa dan syukuran tahunan. Atas saran dari Camat Imal Hanfandi, nama kampung yang semula bernama "Sukuad Bangunrejo" resmi diubah menjadi "Purwodadi".
5. Masa Kepemimpinan Bapak Kasiron (1977–1980)
Kekompakan dan budaya gotong royong masyarakat tetap terpelihara dengan baik, termasuk dalam penyelenggaraan hari besar nasional dan keagamaan yang diperingati secara sederhana. Pada masa ini, pembangunan Masjid Al-Kautsar mulai dilaksanakan dengan dukungan dana dari Departemen Transmigrasi serta swadaya masyarakat. Selain itu, Dinas Peternakan memberikan bantuan stimulan berupa 40 ekor bibit sapi kepada warga.
6. Masa Kepemimpinan Bapak Amat Sukarto (Periode II: 1980–1989)
Masyarakat sepakat memilih kembali Bapak Amat Sukarto karena kepemimpinannya dinilai mampu menjaga kekompakan warga dalam pembangunan fasilitas umum. Perkembangan pada periode ini meliputi:
Tahun 1981: Penyerahan wewenang pengelolaan dari Departemen Transmigrasi kepada Pemerintah Daerah, disertai penyerahan fasilitas berupa bangunan Balai Kampung, Kantor Kepala Kampung, dan satu unit mushala.
Tahun 1982: Pelaksanaan program Respen (Restelmen Penduduk) dengan penerbitan 110 lembar sertifikat tanah.
Tahun 1983: Kampung mulai menerima Bantuan Desa (Bandes) dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kutai.
Tahun 1984: Pelaksanaan proyek perkebunan karet seluas 58 hektare dari PRPTE serta bantuan sarana air bersih dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Kutai (distribusi air belum berjalan lancar akibat keterbatasan debit air dari sumber Linggang Melapeh).
7. Masa Kepemimpinan Bapak Mayan (Plt., 1989–1990)
Masa kepemimpinan Bapak Mayan selaku Pelaksana Tugas (Plt.) berlangsung sangat singkat karena beliau juga menjabat sebagai Sekretaris Camat Barong Tongkok. Pada periode ini, fokus utama adalah pembenahan administrasi Kantor Kampung, sementara pelaksanaan teknis di lapangan diserahkan kepada sekretaris kampung beserta perangkatnya dengan dukungan masyarakat.
8. Masa Kepemimpinan Bapak Rumadi (1990–1998)
Dinamika pembangunan di berbagai sektor pada masa ini memerlukan perpaduan antara swadaya masyarakat dan bantuan pemerintah. Sinergi yang kuat antara pengurus kampung dan warga terlihat dari suksesnya pembangunan Masjid Al-Barokah yang selesai dalam waktu 21 hari melalui program ABRI Masuk Desa (AMD). Selain itu, melalui Program Nasional (Prona) di bidang pertanahan, kurang lebih 300 hektare lahan warga berhasil disertifikatkan dengan biaya yang sangat murah. Kampung juga menerima dana investasi Desa Tertinggal (IDT) selama tiga periode berturut-turut.
9. Masa Kepemimpinan Bapak Reni Pujono (1998–2004)
Masa ini ditandai dengan meningkatnya sikap kritis masyarakat serta masuknya kontribusi dari pihak swasta, yaitu PT KEM. Perusahaan tersebut membantu berbagai kegiatan produktif dan menyerap tenaga kerja lokal, sehingga memicu kemajuan ekonomi warga Purwodadi.
Melalui program Jaring Pengaman Sosial (JPS), dilakukan pengerasan jalan kampung sepanjang 7 kilometer, yang kemudian ditambah sepanjang 1,5 kilometer oleh PT KEM. Pihak swasta tersebut juga memberikan bantuan murni berupa sarana air bersih dan bangunan Balai Kampung. Fasilitas umum lainnya tetap dibangun secara gotong royong oleh masyarakat.
10. Masa Kepemimpinan Bapak Karta Seja (2004–2009)
Pada periode ini, kampung menerima berbagai bantuan langsung dari Pemerintah Kabupaten maupun pihak swasta. Melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM-PPK), dibangun Gedung Posyandu, Gedung TK, dan program Simpan Pinjam Perempuan (SPP). Terdapat pula program yang membutuhkan partisipasi swadaya masyarakat seperti Alokasi Dana Kampung (ADK) untuk pembangunan sarana rumah ibadah dan fasilitas umum.
Tahun 2006: Menerima ADK sebesar Rp100.000.000 untuk pembangunan mes tamu, dapur umum, pagar desa sepanjang 50 meter, toilet kantor, gawang sepak bola, sumur bor, dan penggantian atap seng Poliklinik Kampung. Di tahun yang sama, melalui program Usaha Bersama Kampung (UBK), diterima bantuan Rp100.000.000 untuk pembelian mesin cetak batako, mesin pompa air (alkon), modal simpan pinjam, dan gudang kerja yang dikelola oleh "Kelompok Guyub Bersama" (Ketua: Sdr. Noryansyah, Sekretaris: Sdr. Ambarsyah, Bendahara: Sdr. Sun'an). Unit usaha ini sempat tersendat pada awal tahun 2007 karena kendala pengembalian modal simpan pinjam.
Tahun 2007: Menerima ADK sebesar Rp100.000.000 untuk pembuatan parit/drainase di lingkungan RT 04 dan RT 05, serta kelanjutan pagar desa sepanjang 100 meter. Berdiri pula Koperasi Simpan Pinjam (KSP) "Maju Sejahtera" sebagai modal usaha ekonomi menengah ke bawah, yang kemudian mendapat tambahan modal pada tahun 2009 dan 2011 masing-masing sebesar Rp25.000.000 dan Rp75.000.000. Melalui UBK 2007, dialokasikan pula Rp100.000.000 untuk pengadaan pupuk dan obat-obatan pertanian karet.
Tahun 2008: Menerima ADK sebesar Rp100.000.000 untuk pembangunan Kantor Satu Atap (Kantor Pemerintah Kampung, Kantor BPK, Kantor Lembaga Adat) serta pengadaan satu unit komputer dan enam buah lemari arsip. Di samping itu, melalui dana PNPM-PPK sebesar Rp114.000.000 dibangun Gedung TK Al-Kautsar Tahap I, dan sebesar Rp122.000.000 untuk Gedung Posyandu Purwodadi.
Tahun 2009: Menerima ADK sebesar Rp100.000.000 untuk kelanjutan pembangunan Kantor Satu Atap dan pengecatan atap Balai Desa. Pada tahun ini pula, melalui Dinas Kesehatan Provinsi, dibangun satu unit Puskesmas Pembantu (Pustu) senilai Rp350.000.000. Masjid Al-Barokah mendapatkan bantuan renovasi sebesar Rp200.000.000 dari Pemerintah Kabupaten Kutai Barat. Selain itu, terdapat program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Provinsi Kalimantan Timur sebanyak empat unit senilai Rp144.000.000 yang dialokasikan kepada Bapak Purnadi, Bapak Tosari (Alm.), Bapak Sutrisno, dan Bapak Sarlan.
11. Masa Kepemimpinan Bapak Suprianto (Periode I: 2010–2015)
Bapak Suprianto terpilih melalui pemilihan demokratis pada tanggal 7 Agustus 2009 (mengungguli Bapak Boimin dan Bapak Busra) dan resmi dilantik oleh Bupati Kutai Barat pada tanggal 28 Oktober 2009. Pada tahun pertama, dilakukan penataan kelembagaan seperti Pengurus Pusat Kesehatan Desa (Puskesdes/Pustu), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), dan Pengurus Fardhu Kifayah untuk mengatasi masalah rangkap jabatan. Musyawarah mufakat menjadi instrumen utama pengambilan keputusan kampung.
Tahun 2010: Menerima bantuan PNPM-PPK sebesar Rp105.925.000 untuk pembangunan Gedung TK Al-Kautsar Tahap II (satu lokal). Menerima ADK sebesar Rp100.000.000 untuk perluasan Balai Pertemuan Umum (BPU). Pada tahun ini pula terjadi pemekaran wilayah RT 001, di mana sebagian warganya dimekarkan menjadi RT 006 yang terletak di sebelah selatan sejajar dengan Jalan Linggang Melapeh Lama, dipimpin oleh Kepala Dusun Bapak Sugito.
Tahun 2011: Menerima bantuan PNPM sebesar Rp129.057.500 untuk pembuatan drainase/parit sepanjang 300 meter. Menerima bantuan RTLH dari Provinsi Kalimantan Timur sebanyak tiga unit senilai Rp105.000.000 untuk Bapak Karto Dimejo (RT 01), Bapak Sudarsih (RT 02), dan Bapak Supono (RT 05). Nilai ADK pada tahun ini meningkat menjadi Rp150.000.000 yang dialokasikan untuk pembangunan Kantor PKK, Kantor LPM, dan Kantor Karang Taruna pada kompleks Kantor Satu Atap.
12. Masa Kepemimpinan Pejabat Sementara (2015–2017)
Pada bulan September 2015, masa jabatan Bapak Suprianto berakhir dan kepemimpinan diisi oleh Pejabat Sementara (Pjs.) dari Kecamatan Linggang Bigung, yaitu Bapak Yosafat. Jabatan ini berlangsung singkat karena pada bulan Oktober 2015, Bapak Suprianto kembali ditunjuk sebagai Pejabat Sementara Petinggi Purwodadi hingga pelaksanaan pemilihan berikutnya.
13. Masa Kepemimpinan Bapak Umar (2017–2023)
Bapak Umar terpilih secara langsung oleh masyarakat untuk periode kepemimpinan awal (2017–2018) melalui pemilihan petinggi yang diikuti oleh tiga kandidat (Bapak Umar, Bapak Suprianto, dan Ibu Karliah). Dalam menjalankan roda pemerintahan, beliau didukung oleh perangkat kampung yang terdiri atas Juru Tulis, Kaur Keuangan, Kaur Perencanaan dan Pembangunan, Kasi Pemerintahan, Kasi Pelayanan dan Kesejahteraan, serta lembaga kampung (BPK, Lembaga Adat, LPM, 6 RT, Linmas, dan Karang Taruna). Di bawah kepemimpinan ini, tepatnya pada 10 Desember 2021, Kampung Linggang Purwodadi berhasil menorehkan prestasi sebagai Juara II Lomba "AKU HATINYA PKK" Tingkat Provinsi Kalimantan Timur.
Selanjutnya, pada pemilihan tanggal 10 Maret 2023 yang diikuti oleh tiga kandidat (Ibu Sri Upami, Bapak Umar, dan Bapak Suprianto), Bapak Suprianto kembali terpilih untuk masa jabatan periode 2023–2031. Dalam menjalankan tugasnya, beliau dibantu oleh tujuh orang staf desa yang menempati posisi Juru Tulis, Kaur Tata Usaha dan Umum, Kaur Perencanaan dan Pembangunan, Kaur Keuangan, Kasi Pemerintahan, Kasi Pelayanan, dan Kasi Kesejahteraan, serta didukung oleh seluruh lembaga kampung yang ada demi kemajuan wilayah Purwodadi.
125 TOKOH PENDIRI KAMPUNG
|
NO |
NAMA |
KETERANGAN |
NO |
NAMA |
KETERANGAN |
|
01 |
Abu
Mahali |
|
21 |
Dasean |
|
|
02 |
Abudarim |
|
22 |
Dasman |
|
|
03 |
Adenin |
|
23 |
Dayat |
|
|
04 |
Ali
Muhdi |
|
24 |
Dirosono |
|
|
05 |
Amat
Karjo |
|
25 |
Domo |
|
|
06 |
Amat
Sukarto |
|
26 |
Dulbari |
|
|
07 |
Amat
Tamsir |
|
27 |
Dulkarim |
|
|
08 |
Amat
Turmudi |
|
28 |
Dulloh |
|
|
09 |
Bejo
Ireng |
|
29 |
Dulrajak |
|
|
10 |
Bejo
Sutikno |
|
30 |
Hadi
Pawiro |
|
|
11 |
Budi
Suwarno |
|
31 |
Harjana |
|
|
12 |
Busro |
|
32 |
Harjo
Suwito |
|
|
13 |
Casmo |
|
33 |
Ismail |
|
|
14 |
Cokro
Dimejo |
|
34 |
Jamil |
|
|
15 |
Cokro
Pawiro |
|
35 |
Istoyo |
|
|
16 |
Da’alim |
|
36 |
Jemingun |
|
|
17 |
Darlan |
|
37 |
Jopawiro |
|
|
18 |
Darsono |
|
38 |
Joyo
Piwono |
|
|
19 |
Darsoyitno |
|
39 |
Kamari |
|
|
20 |
Darum |
|
40 |
Kambali |
|
|
NO |
NAMA |
KETERANGAN |
NO |
NAMA |
KETERANGAN |
|
41 |
Kamirin |
|
83 |
Rawini |
|
|
42 |
Kardi |
|
84 |
Reni Pujono |
|
|
43 |
Kartawi |
|
85 |
Resomunadi |
|
|
44 |
Karto Wijoyo |
|
86 |
Rohadi |
|
|
45 |
Karyo Rejo |
|
87 |
Rono Pawiro |
|
|
46 |
Kasiron |
|
88 |
Ruslan |
|
|
47 |
Kasroni |
|
89 |
S. Suparman |
|
|
48 |
Kromokarso |
|
90 |
Sahlan |
|
|
49 |
Kromorejo |
|
91 |
Tasan |
|
|
50 |
Lam Sadid |
|
92 |
Sanarja |
|
|
51 |
Madwirja |
|
93 |
Sanarso |
|
|
52 |
Marsani |
|
94 |
Saniskak |
|
|
53 |
Marsono |
|
95 |
Sanroji |
|
|
54 |
Marto Pawiro |
|
96 |
Sansukarta |
|
|
55 |
Marto Taruno |
|
97 |
Sansumarto |
|
|
56 |
Maryono. B |
|
98 |
Sanwijaya |
|
|
57 |
Maryono Subardi |
|
99 |
Sardi |
|
|
58 |
Matari |
|
100 |
Sarlan |
|
|
59 |
Matsikin |
|
101 |
Saroji |
|
|
60 |
Muh. Slamet |
|
102 |
Sehabudin |
|
|
61 |
Muhari |
|
103 |
Sisuyono |
|
|
62 |
Muharjo |
|
104 |
Siswoyo |
|
|
63 |
Muhayan |
|
105 |
Sudiono |
|
|
64 |
Muh Jamil |
|
106 |
Sukemi |
|
|
65 |
Muhtarom |
|
107 |
Sumardi Klupat |
|
|
66 |
Muh Jaeni |
|
108 |
Sumarno |
|
|
67 |
Muh Karjo |
|
109 |
Supiyanto |
|
|
68 |
Mulyadi |
|
110 |
Sutarno |
|
|
69 |
Nahrowi |
|
111 |
Suwardi |
|
|
70 |
Ngajaib |
|
112 |
Suwarto |
|
|
71 |
Noto Prayitno |
|
113 |
Taryudi |
|
|
72 |
Noyo Karto |
|
114 |
Tasmo Timbo |
|
|
73 |
Nuhri |
|
115 |
Tohir |
|
|
74 |
Nurhadi |
|
116 |
Trisno Diharjo |
|
|
75 |
Pamuji Waloyo |
|
117 |
Tukimin |
|
|
76 |
Panut |
|
118 |
Wage Kastari |
|
|
77 |
Ponadi |
|
119 |
Wagino |
|
|
78 |
Ponimin |
|
120 |
Warlani |
|
|
79 |
Prapto Sudarmo |
|
121 |
Wiryadinama |
|
|
80 |
Panudikroso |
|
122 |
Witanom |
|
|
81 |
Rasmadi |
|
123 |
Yarwin |
|
|
82 |
Raswan |
|
124 |
Yaswirja |
|
|
NO |
NAMA |
KETERANGAN |
|
125 |
Yaswito |
|
|
Pindahan Dari Kampung Lain |
||
|
126 |
Sutarsan |
|
|
127 |
Sankarya |
|
|
128 |
Sutrisno Munadi |
|
|
129 |
Torjo |
|
Cari Blog Ini